PENTINGNYA PENDIDIKAN KEBENCANAAN DIBERIKAN DI SEKOLAH-SEKOLAH

Indonesia berada di daerah rawan bencana. Bermacam ragam jenis bencana terdapat di Indonesia, seperti banjir, longsor, letusan gunung berapi, rob, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, kebakaran hutan dan lahan, konflik sosial, dan lain-lain. Salah satu cara yang sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan adalah diajarkannya pendidikan kebencanaan di sekolah-sekolah. Pelatihan untuk kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana juga perlu terus dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh komponen sekolah. Mekanisme pembelajaran bersama mengenai pendidikan kebencanaan dengan melibatkan berbagai unsur sekolah itu dapat ditempuh dengan cara yang disebut “Sekolah Siaga Bencana” (SSB).
Pentingnya pendidikan kebencanaan di sekolah-sekolah itu dibahas dalam “Sosialisasi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana pada Sektor Pendidikan” hari Kamis siang (17/3) di Ruang Aula Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara, Kota Manado. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdiklat BNPB), Muchtaruddin; Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Sugiharto; Sekretaris Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara, JSJ Wowor MSi.; Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB), Riana Nedyawati dan Wahyu Sulastomo; United Nation Development Programme (UNDP), Valentinus Irawan; serta lebih dari 106 orang guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah di Kota Manado dan sekitarnya.
Kepala Pusdiklat BNPB, Muchtaruddin dalam kata sambutannya menyampaikan, “Indonesia berada di daerah rawan bencana dan dengan jenis-jenis bencana yang lengkap, seperti rob, banjir, gempa bumi, tsunami, puting beliung dan termasuk konflik sosial. Memberi pendidikan bencana pada anak-anak adalah sangat penting. Dunia pendidikan cukup strategis untuk menyampaikan informasi bencana dan agar terjadi kesiapsiagaan.”
Menurut Muchtaruddin sudah ada payung hukum untuk itu, yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam peraturan ini penanggulangan bencana dilakukan pada tiga tahapan, yaitu pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Lalu dimana peran guru pada pendidikan bencana? Posisi guru yang paling tepat adalah ketika tidak ada bencana atau pra bencana. Pada saat itu kegiatan pendidikan bencana dapat dilakukan dengan terencana dan terstruktur serta terarah.
Dalam sesi selanjutnya diisi oleh Wahyu Sulastomo dari Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) yang memaparkan materi “Sekolah Siaga Bencana” (SSB). Wahyu Sulastomo, pria berkuncir yang biasa dipanggil Puthut ini mengatakan, “Sekolah Siaga Bencana adalah sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengelola risiko bencana di lingkungannya. Sedangkan tujuan SSB adalah untuk membangun budaya siaga dan budaya aman di sekolah, serta membangun ketahanan dalam menghadapi bencana oleh warga sekolah.”
Menurut Puthut, SSB dilaksanakan di sekolah-sekolah antara lain karena:
1.        Sekolah secara sadar dan terencana melakukan upaya mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.
2.        Sekolah tetap terpercaya sebagai wahana efektif untuk membangun budaya bangsa.
3.        Sekolah merupakan ‘ruang publik’ dengan tingkat kerentanan tinggi (dari hasil penelitian LIPI dan UNESCO tahun 2006).
Ada dua unsur utama pada SSB, yaitu: lingkungan belajar yang aman dan kesiapsiagaan warga sekolah. Untuk melakukan monitoring dan mengukur berhasil tidaknya SSB maka diperlukan adanya parameter, indikator, dan verifikasi. Puthut dari sejak pasca gempa bumi di Yogyakarta – Jawa Tengah pada Mei 2006 lalu sampai kini menjadi staf Arbeiter-Samarite-Bund Deutschland e.V. (ASB) Indonesia, sebuah lembaga kemanusiaan dari Jerman, sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat dan pendidikan bencana.
Dalam acara ini disampaikan juga materi “Sistem Penanggulangan Bencana” oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Sugiharto dan materi “Analisis Risiko Bencana” oleh staf United Nation Development Programme (UNDP), Valentinus Irawan. Di sela-sela acara, Valentinus Irawan sebagai fasilitator mengadakan kuis-kuis ringan untuk mengecek tingkat pengetahuan umum para peserta mengenai kebencanaan, dan bagi para pemenang kuis mendapatkan doorprize menarik. Untuk menambah apresisasi peserta juga diputar sebuah film tsunami buatan Direktorat Jenderal KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s