Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana

“Siapa kita?” 
        “SRC PB!!!”
“Mana suaramu?” 
         “Huuh!!!”
“Mana matamu?”
         “Hmmm!!!”
“Mana gigimu?”
         “Hiih!!!”
“Tajam dan garang! Jiwamu! Ragamu!”
“Check sound!” 
        “Huh Hah!”
        “I know I can… SRC is the best… It is what I want to be…”
Itulah rangkaian yel yang disuarakan 111 personil Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC PB) dengan penuh semangat sebelum mengikuti Pelatihan Pengembangan Kapasitas Tingkat Seksi di Cansebu Resort Bogor pada 25 Juni hingga 9 Juli 2012. SRC PB merupakan stand by force yang dibentuk atas arahan Presiden RI yang disampaikan pada Sidang Kabinet Indonesia Bersatu II tanggal 5 November 2009. Stand by force ini beranggotakan tim medis, tim penanganan listrik, tim komunikasi, tim gerak cepat. Satuan yang melibatkan personil TNI dan Polri ini didukung pesawat jenis Hercules C-130, Be-200, dan CN 235 sehingga mobilitas ke lokasi bencana dapat dilakukan dengan sangat cepat atau dalam hitungan jam.
Dalam membentuk personil SRC PB yang tangguh, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) BNPB telah merancang pelatihan dengan berbagai metode dan tahapan. BNPB sangat serius dalam membangun dan menciptakan personel yang terampil, tangguh, dan tangkas yang dibutuhkan pada saat penanganan respon darurat. Satuan ini merupakan satuan khusus dengan personel pilihan yang memiliki standar kompetensi yang terukur dan teruji.
Pelatihan yang dikembangkan oleh Pusdiklat untuk pelatihan tingkat seksi terbagi menjadi 3 (tiga) tahap, antara lain latihan dasar umum, latihan lanjutan, dan latihan seksi. Latihan seksi terbagi menjadi 7 kelompok dengan spesialisasi khusus meliputi: (1) Search and Rescue (SAR), (2) Perencanaan dan Kaji cepat, (3) Hunian sementara, (4) Logistik, (5) Komunikasi, (6) Informasi dan media.
Tim personel yang dilengkapi day pack seberat 35 liter ini terdiri dari gabungan personel dari TNI, Polri, BNPB, kementerian/lembaga terkait, dan organisasi kemanusiaan tentu memerlukan penyesuaian untuk membangun tim yang solid. Oleh karena tahapan materi team building sangat penting untuk lebih mengenal pribadi di dalam tim sehingga terbangun komunikasi yang positif dan saling bersinergi. Sebagai gambaran, dalam tim SAR dapat terdiri dari personel Basarnas, TNI, Polri, BNPB, atau lembaga lain. Peningkatan kapasitas teknis yang diberikan berupa teori dan praktek lapangan. Melalui praktek lapangan, keterampilan dan ketangkasan personel SRC PB akan selalu terjaga dan terasah karena prinsip yang dijunjung dalam pembentukan SRC PB ini adalah kecepatan, fleksibilitas, profesionalitas, dan akuntabilitas.
Kecepatan menjadi prinsip utama karena penyelamatan dini memberikan harapan lebih banyak nyawa manusia tertolong. Profesional dimaksudkan bahwa setiap personel SRC PB yang diterjunkan ke lokasi bencana telah memiliki standar kompetensi yang berlaku dengan mengutamakan keselamatan, sedangkan fleksibilitas mengacu pada pelayanan yang konsisten dan disesuaikan dengan kondisi yang ada dalam mengelola kejadian bencana di lokasi, tanpa memandang faktor penyebab, ukuran, lokasi, dan kompleksitas bencana. Dan terakhir, akuntabilitas menunjukkan bahwa operasi lapangan dilakukan dengan transparan, tindakan yang dilaksanakan dapat dipertanggungjawabkan secara etik dan hukum.
SRC PB mempunyai tugas melaksanakan penindakan awal pada fase tanggap darurat yang meliputi kegiatan, antara lain (1) Kaji cepat, (2) Pengendalian situasi darurat bencana termasuk pembuka jalan (debottle necking), (3) SAR, (4) Pelayanan kesehatan, pengungsian dan hunian sementara, (5) Penyaluran logistik dari titik penerimaan hingga ke sasaran, (6) Pemulihan segera fungsi sarana & prasarana vital, (7) Pengaturan bantuan dan relawan dalam dan luar negeri, (8) Mengkoordinasikan dukungan pusat sesuai tugas reguler kementerin/lembaga. Khusus di bidang pelayanan kesehatan, satuan ini mampu untuk membangun rumah sakit lapangan dengan dilengkapi peralatan medis portable.
Satuan yang dilengkapi dengan kendaraan seperti pesawat angkut, helikopter, mobil komunikasi, ambulans, mobil operasi 4WD ini terbagi dalam 2 wilayah—wilayah barat dan timur. SRC PB Wilayah Barat menopang operasi bantuan darurat bencana mulai dari wilayah-wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Pulau Jawa bagian Barat sampai dengan Jawa Tengah. SRC PB Wilayah Timur mencakup Sulewasi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Salah satu latar belakang terbentuknya SRC PB karena wilayah Indonesia yang rawan terhadap ancaman bencana. Di samping itu, sebagai gambaran umum bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau terbentang sepanjang 3.977 mil. Sementara itu, wilayah dengan luas daratan 1.992.570 km² dan perairan 3.257.483 km² memiliki kekayaan berupa keragaman hayati dan sumber daya alam. Meskipun dilimpahi dengan kekayaan tersebut, sisi lain dari rupa nusantara ini yang patut diwaspadai bersama.
Ancaman bencana sangat tinggi. Dikelilingi tiga lempek tektonik aktif, Lempeng Eurasia, Pasifik, dan Hindia-Australia, Indonesia dan dilalui gugusan gunung api aktif atau lebih dikenal dengan ring of fire, masyarakat Indonesia harus waspada. Selain itu, faktor hidrometeorologis juga memicu terjadinya bencana seperti longsor, banjir bandang, kekeringan, atau pun angin puting beliung. Data bencana tahun 2002-2011 menyebutkan bahwa lebih dari 80% dari total bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Sementara itu kecenderungan bencana dari tahun ke tahun terus meningkat, tahun 2002 terdapat 190 kejadian bencana dan pada tahun 2011 menjadi 1.663 kejadian bencana.
BNPB sebagai focal point penanggulangan bencana di Indonesia sangat serius membangun stand by force dalam kerangka respon darurat ini. Lokasi pelatihan secara khusus telah disiapkan dan didesain untuk peningkatan keterampilan dan ketangkasan personel SRC PB. Saat ini telah disiapkan area khusus, Disaster Relief Training Ground, yang tergabung dalam satu kompleks besar, Indonesian Peace and Security, di Sentul Jawa Barat.
Sementara itu sebagai stand by force, SRC PB ditempatkan pada 2 (dua) lokasi sebagai base ops sesuai dengan pembagian wilayah barat dan timur tadi. Base ops wilayah Barat berlokasi di Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta dan wilayah Timur di Lapangan Udara Abdul Rahman Saleh, Malang. Blue print SRC PB menyebutkan bahwa setiap base ops akan disiagakan masing-masing 550 orang personil, dan setiap hari akan disiapkan 75 orang di masing masing base ops yang siap diberangkatkan pada kesempatan pertama. Pada kesempatan berikutnya akan diterbangkan tim yang lebih lengkap jika diperlukan sesuai dengan informasi terbaru dari lapangan.
Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) dengan perkuatannya, bertujuan untuk membantu pemerintah daerah dalam melakukan respon darurat pada periode panik atau emergency response yang cepat. Bantuan dapat berupa bantuan manajemen, kaji cepat, teknis, peralatan, dukungan logistik dan komunikasi. Sebagai gambaran intervensi SRC PB pasca bencana dapat dilihat pada gambar berikut.
SRC PB sebagai Soft Diplomacy di Kancah Internasional
Stand by force yang telah dibentuk 3 tahun lalu telah memberikan warna kemanusiaan dalam konteks solidaritas internasional. Beberapa kali misi kemanusiaan diterjunkan di beberapa negara yang mengalami bencana. Pemerintah Indonesia mengirimkan misi SRC PB untuk membantu penanganan darurat pasca gempa bumi 7 SR di Haiti 2010. Kemudian, SRC PB membantu Pakistan pasca bencana banjir buruk yang berdampak terhadap 1,5 juta warga Pakistan pada 2010. Dan terakhir kali, pada saat SRC PB membantu masyarakat Jepang pasca bencana gempa bumi dan tsunami Sendai 2011. Misi ke Jepang ini melibatkan tim sebanyak 65 personel dari TNI, BNPB, Basarnas, PMI, Kementerian Kesehatan, beberapa kementerian dan lembaga lain dengan kemampuan Search and Rescue (SAR) dan medis diberangkatkan menuju Jepang. Selama ini bantuan kemanusiaan yang diberikan SRC PB tidak hanya berupa dukungan personel teknis, tetapi juga bantuan logistik.
Solidaritas antar bangsa merupakan landasan yang paling pokok dalam penyelenggaraan bantuan bagi negara yang tertimpa bencana. Di sisi lain, keterlibatan dan peran Pemerintah Indonesia dalam penanggulangan bencana di luar negeri dapat dipandang sebagai soft diplomacy. Soft diplomacy dapat diartikan sebagai upaya untuk dapat menjalin hubungan melalui upaya-upaya yang atraktif atau persuasi untuk mengubah preferensi yang ada.
Pencapaian keterlibatan Indonesia dalam penanggulangan bencana di tingkat internasional berdampak pada hubungan bilateral. Maarif menyebutkan pengakuan dunia terhadap capaian Indonesia dalam penanggulangan bencana merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki daya saing bangsa yang potensial untuk terus dikembangkan (2011).
Dengan keunggulan semua aspek dalam penanggulangan bencana tersebut, Indonesia akan memiliki posisi tawar yang tinggi dan mempengaruhi negara lain. Penanggulangan bencana merupakan soft diplomacy yang dapat dilakukan secara atraktif dan persuatif kepada negara-negara lain atau non negara lainnya untuk mengubah pilihan-pilihannya (Maarif, 2011).
Sekilas Stand by Force Di Beberapa Negara
Di belahan bumi ini, ada beberapa satuan-satuan khusus dalam penanggulangan bencana. Jepang memiliki Japan Disaster Relief (JDR) yang memiliki tugas dalam Search and Rescue (SAR), medis, dan bantuan tenaga ahli. Tim ini berasal dari pasukan bela diri, tenaga medis, dan tenaga ahli dari instansi pemerintah. Amerika memiliki Disaster Assistance Response Team (DART) yang bertugas dalam SAR, bantuan medis dan kesehatan, dukungan operasi udara, dukungan teknis, logistik, informasi dan komunikasi. Personil DART terdiri dari tim spesialis yang dilatih dengan berbagai keterampilan penanganan bencana.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) juga memiliki tim United Nations Disaster Assessment and Coordination (UNDAC). Tugas UNDAC sangat spesifik yaitu melakukan kajian cepat terhadap kondisi pasca bencana. Kaji cepat tersebut dimaksudkan untuk memperoleh kebutuhan informasi dan data secara dini sehingga respon darurat dapat dilakukan secara efektif dan efisien. UNDAC mengutamakan informasi dan data mengenai distribusi bantuan, penyediaan air minum, bantuan pemulihan segera, dan koordinasi. Personel kaji cepat ini berasal dari berbagai negara. Mereka dapat digerakkan dalam hitungan jam dengan dasar stand by call.
Harus diakui untuk membangun Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana yang handal membutuhkan proses yang panjang. Pengakuan internasional dengan sertifikasi khusus merupakan target yang ingin dicapai. Untuk mencapai pada level tersebut, pelatihan pengembangan teknis telah didukung oleh lembaga-lembaga internasional yang memiliki kompetensi khusus, seperti lembaga United Nations, United States Forest Service/USAID, dan AIFDR.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s